Sering saat menonton TV saya menghabiskan 1 jam hanya untuk memindah chanel. Kenapa? karena seperti dikomando, semua chanel hanya menyiarkan acara yang membosankan. Dan bila sudah mentok, saya iseng menonton sinetron. Hasilnya saya merasa geli. Sinetronnya serius tapi kok justru membuat saya pengen tertawa. Alur ceritanya dangkal dan tidak masuk akal. Akhirnya saya pindah ke sinetron komedi, eh ternyata fenomena aneh itu kembali terjadi. Sinetronnya komedi, tapi kok justru membuat kepala pening, bingung mikirin komedinya yang mana? kok saya tidak terpancing untuk tertawa. Komedi murahan, splastik. Akhirnya saya beralih ke acara reality show macam termehek-mehek dan kawan-kawan. Hasilnya lebih parah, semuanya hoax. Cerita bohong yang disetting seperti kisah nyata. Tidak percaya? coba Anda cermati lebih jeli dan gunakan logika Anda. Hmm Anda malas menggunakan logika, baik coba tunggu sampai acara itu selesai dan menampilkan credit title, disitu tertulis kru penulis skenario. Kisah nyata kok pakek skenario. Masih juga tidak percaya!!! Anda keras kepala juga ya. Cari di internet, maka Anda akan mendapati fakta yang membuktikan semua itu hoax. Kecewa dengan kenyataan itu, maaf terkadang kenyataan itu memang menyakitkan.
Kata Bijak
To be or not to be that is the questions ...... Is is better to die or to live. (Plato)
Artikel Populer
Blog Lain
Filosofi Psycho:
Filosofi Perduto:
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya (kok kayaknya banyak kurangnya) KPU akhirnya menyelesaikan penghitungan manual dan menyatakan pasangan SBY dan Boediono sebagai pemenangnya. Tapi kerja KPU yang sejak awal berantakan dan ditambah dengan komentar elite politik yang bernada profokatif, menyebabkan hasil pemilu kali ini banyak menimbulkan pro dan kontra.
Di belahan dunia lain beberapa negara juga mengalami kisruh politik terkait pemilu. Iran salah satunya, hasil pemilu yang kembali dimenangkan oleh Ahmadinejad menuai banyak protes, bahkan demontrasi besar-besaran yang terjadi sampai memakan korban jiwa. Contoh lain Sri Lanka. Keberhasilan Presiden Mahinda Rajapaksa memberantas Macan Tamil, membuat presiden terlalu merasa percaya diri sehingga terlontar wacana agar pemilu tahun depan tidak perlu diselenggarakan karena pemenangnya sudah jelas. Wacana ini tentu saja menimbulkan protes dari kaum oposisi, sehingga memanaskan situasi politik disana.
Filosofi Psycho:
Sejak saya lahir sebagai warga Indonesia hanya sekali saya ikut ambil bagian dalam pesta demokrasi di negara ini. Itupun karena seorang teman saya mencalonkan diri sebagai anggota dewan. Setelah itu saya selalu berada dalam grup netral, tak punya pendirian atau juga bisa disebut GOLPUT. Alasan saya memilih Golput karena merasa tak ada pemimpin yang bisa dipercaya. Menurut saya para calon hanyalah memikirkan uang dan kekuasaan. Mereka hanya melayani rakyat saat kampanye, setelah itu mereka menghilang tanpa jejak.
Demokrasi adalah buah pikir dari filsuf Yunani macam Socrates dan Plato. Dengan cepat demokrasi menjadi populer mengalahkan sistem lain seperti monarki, aligarki dan lain sebagainya. Lalu apa hubungan saya berhenti golput dengan Plato?
Langganan:
Postingan (Atom)
