Filosofi Perduto:
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya (kok kayaknya banyak kurangnya) KPU akhirnya menyelesaikan penghitungan manual dan menyatakan pasangan SBY dan Boediono sebagai pemenangnya. Tapi kerja KPU yang sejak awal berantakan dan ditambah dengan komentar elite politik yang bernada profokatif, menyebabkan hasil pemilu kali ini banyak menimbulkan pro dan kontra.
Di belahan dunia lain beberapa negara juga mengalami kisruh politik terkait pemilu. Iran salah satunya, hasil pemilu yang kembali dimenangkan oleh Ahmadinejad menuai banyak protes, bahkan demontrasi besar-besaran yang terjadi sampai memakan korban jiwa. Contoh lain Sri Lanka. Keberhasilan Presiden Mahinda Rajapaksa memberantas Macan Tamil, membuat presiden terlalu merasa percaya diri sehingga terlontar wacana agar pemilu tahun depan tidak perlu diselenggarakan karena pemenangnya sudah jelas. Wacana ini tentu saja menimbulkan protes dari kaum oposisi, sehingga memanaskan situasi politik disana.
Walaupun kondisi politik di Indonesia tidak sepanas di Iran dan Sri Lanka, tapi riak-riak yang timbul memiliki potensi untuk ke arah sana. Sebelum semua itu terjadi, rasanya kita harus segera colling down. Perbedaan bukan alasan untuk saling mencaci, justru perbedaan yang membuat kita kuat. Kita hidup dalam perbedaan, dan selamanya itu yang akan terjadi.
Lalu apa kita harus selalu diam, jika mendapati hal yang tidak sesuai? Ya tidak begitu, itu namanya terlalu pasrah. Kita berhak mempertahankan keyakinan, tapi dimulai dengan cara yang damai. Jika dengan cara yang damai gagal, lalu bagaimana? Sebelum kita menempuh cara yang lebih keras, sebaiknya kita berkaca, apakah keyakinan kita begitu berharga untuk dipertahankan lebih lanjut? Apakah bukan kita justru pihak yang salah?
Memang cara kekerasan seperti revolusi terkadang adalah jalan yang terbaik, tapi itu juga jalan yang terakhir. Sekali lagi perlu diingat, kita adalah individu yang berbeda, dan selamanya berbeda. Semoga kita selalu bisa berdamai dalam perbedaan. Amien.
0 comments:
Posting Komentar